Terbaring oleh Manusia

Aku terbaring dan tidak berani bersuara
Hanya menahan sakit karena rantai yang membelengguku
Terkadang, aku melihat tetesan darah segar menetes
Sela-sela bulu mataku, tertutup debu dan tanah


Jatuh hati mampu menjeratku sedalam ini
Ketika kepak datangnya dari sayap yang patah terluka
Bahkan sayap yang dulu lebih tegap dari bahuku
Tidak mampu menjaga keseimbangan dari putaran gelora diri ini.


Panggung ini jadi sangat ironis, kawan
Drama ini jadi terlalu memihak pada kelemahan dan kekuatan semata
Tentang membuang seseorang dan membeli keberuntungan seseorang
Kuat guncangannya, dari awal yang terlalu dini, hingga akhir yang terlalu cepat pula.


Aku terbaring dan tidak berani bersuara
Hanya menahan sakit karena rantai yang membelengguku
Mengapa manusia harus berwajah malaikat dan bidadari
Jika hanya menawarkan darah segar manusia kelana yang dihina.

Lama tidak menulis tentang gelap dan kelam. Terakhir aku tahu tentang keduanya adalah ketika ada hantaman masa yang tidak terelakkan oleh kegembiraan apapun. Tapi ketika sukacita mencari sekam dalam gelap itu diiringi kerinduan, itu bukan karena ada lagi kata menyerah pada pekat. Ini adalah cara manusia menggali dirinya sendiri, berkomunikasi dengan rohnya sendiri, lalu menerbitkan caranya sendiri untuk berdamai dengan jiwanya.
Orang bijak banyak berkata, bahwa beranilah kau gali apa yang kau temukan lebih ada padamu. Gali terus hingga kau temukan, lalu menyatu dengan rohnya. Roh yang sejatinya hadir dengan jujur.

Tulisan ini diinspirasi oleh Andre Hehanusa dan NOAH.

Advertisements